Seorang influencer media sosial asal Meksiko bernama Cesar Gastelum tewas ditembak pada Selasa saat sedang melakukan siaran langsung (livestream) bersama sekelompok temannya di luar sebuah restoran di kota Culiacán, wilayah barat laut Meksiko, menurut keterangan otoritas setempat.
Gastelum, yang memiliki hampir 600.000 pengikut di TikTok dan dikenal luas melalui video sketsa komedinya, sedang melakukan siaran langsung di luar sebuah restoran cepat saji ketika dua orang yang datang mengendarai sepeda motor diduga melepaskan tembakan secara langsung ke arahnya. Hal tersebut terlihat dalam rekaman video yang telah ditinjau oleh Reuters.

Seorang pejabat Negara Bagian Sinaloa mengonfirmasi kepada kantor berita Inggris Reuters bahwa Cesar Gastelum telah meninggal dunia. Ia juga menyatakan bahwa penyelidikan sedang berlangsung dan pengamanan di wilayah tersebut telah ditingkatkan.
Insiden penembakan ini terjadi di tengah gelombang kekerasan yang melanda Culiacán, sebuah kota yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi pusat konflik antara kelompok-kelompok kriminal yang saling bersaing untuk memperebutkan kendali atas wilayah tersebut.
Kasus tersebut menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di Meksiko, sebuah negara yang memiliki salah satu tingkat kekerasan berbasis gender tertinggi di dunia.
Pada saat kematiannya, Marquez memiliki sekitar 200.000 pengikut di Instagram dan TikTok.
Pada bulan Juli, otoritas Meksiko mengumumkan penangkapan Ramon Angel Alvarez Ayala, yang dikenal dengan julukan “El R-1”. Menteri Keamanan Meksiko, Omar Garcia Harfuch, mengidentifikasi Alvarez Ayala sebagai pemimpin sebuah sel kriminal yang terkait dengan kartel Jalisco dan diduga bertanggung jawab atas penembakan yang menewaskan Marquez.

Selain itu, ia juga ditangkap atas tuduhan memerintahkan pembunuhan seorang wali kota di negara bagian Michoacán, sebagaimana disampaikan Menteri Keamanan Omar Garcia melalui unggahannya di platform X pada hari Kamis.
Menurut data terbaru dari Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Amerika Latin dan Karibia (ECLAC), Meksiko, Paraguay, Uruguay, dan Bolivia menempati posisi yang sama sebagai negara dengan tingkat femisida (pembunuhan terhadap perempuan karena alasan berbasis gender) tertinggi keempat di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
Pada tahun 2023, keempat negara tersebut mencatat angka 1,3 kasus femisida per 100.000 perempuan.





