Direktur Operasional (Chief Operating Officer/COO) FIFA menyatakan bahwa para staf organisasi tersebut telah dikelabui oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, terkait rencana penjualan sebagian hak keuntungan Piala Dunia. Ia juga menegaskan pada hari Jumat bahwa proyek tersebut tidak boleh dilanjutkan.
Kevin Lamour, eksekutif FIFA yang berbasis di Zurich, dalam pernyataannya kepada The Associated Press, secara tersirat bahkan mempersilakan Infantino untuk memecatnya. Ia membela rekan-rekan kerjanya di tengah memanasnya reaksi terhadap rencana sang presiden FIFA untuk menjual sebagian kepemilikan atas keuntungan Piala Dunia di masa depan kepada perusahaan dana investasi swasta (private equity).

Lamour menulis bahwa para staf telah “diperdaya” oleh kurangnya keterbukaan Infantino selama beberapa bulan terakhir dalam menyusun rencana penjualan tersebut. Menurutnya, para pegawai FIFA “layak mendapatkan perlakuan yang lebih baik daripada penghinaan dan intimidasi.”
“Ini adalah proyek yang digagas oleh satu orang,” tulis Lamour, yang telah lama bekerja bersama Infantino baik di FIFA maupun di badan sepak bola Eropa, UEFA. “Proyek ini bukan hanya tidak boleh dilanjutkan, tetapi kini sudah saatnya para pemimpin politik sepak bola mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengambil keputusan yang benar.”
Pernyataan Lamour disampaikan hanya beberapa jam setelah penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, mengundurkan diri. Cordeiro, mantan bankir Goldman Sachs yang mewakili FIFA dalam Satuan Tugas Gedung Putih untuk Piala Dunia, juga mendesak para pejabat senior FIFA lainnya agar ikut bersuara.
“Saya tidak bisa tinggal diam ketika FIFA mempertimbangkan untuk menjual sebagian kepemilikan atas Piala Dunia,” tulis Cordeiro dalam sebuah pernyataan.
Mantan Presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (U.S. Soccer Federation) itu juga mengatakan bahwa dirinya tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan mengenai rencana tersebut, yang didukung oleh sebuah dana investasi asal New York yang didirikan oleh Joshua Kushner.

“Saya ingin menegaskan. Saya sama sekali tidak terlibat dalam penyusunan usulan ini, dan saya menentangnya tanpa syarat,” kata Cordeiro. Ia menyebut pembentukan anak perusahaan komersial senilai US$20 miliar itu sebagai “kesepakatan yang buruk bagi sepak bola.”
Lamour tidak mengundurkan diri dari jabatannya sebagai COO FIFA yang telah diembannya sejak 2024. Namun, ia mengatakan bahwa dirinya memiliki tanggung jawab moral terhadap rekan-rekan kerjanya.
“Dan jika itu berarti saya kehilangan pekerjaan saya, biarlah demikian,” kata pejabat asal Prancis tersebut. “Saya akan memahami dan menghormati keputusan itu. Setidaknya malam ini saya bisa tidur dengan tenang.”
Lamour mulai berkecimpung di dunia sepak bola setelah sebelumnya berkarier di bidang politik sekitar dua dekade lalu. Ia mengawali kiprahnya sebagai ajudan Presiden UEFA saat itu, Michel Platini. Dalam perjalanannya, Lamour kerap memegang peran internasional dalam politik sepak bola dengan menjalin komunikasi bersama federasi-federasi anggota FIFA di Afrika dan Asia. Federasi-federasi tersebut kini tengah mempertimbangkan tawaran Infantino, yang menjanjikan masing-masing US$20 juta, dengan batas waktu pengambilan keputusan hingga 19 September.
Sementara itu, Cordeiro dalam beberapa tahun terakhir kerap mendampingi Infantino dalam kunjungan kerja untuk bertemu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Gedung Putih.
“Sepak bola telah menjadi bagian penting dalam hidup saya. Setelah lebih dari 35 tahun berkarier di dunia perbankan, saya memahami nilai aset ini sekaligus konsekuensi jika sebagian kepemilikannya dilepas,” ujar Cordeiro. “Karena itulah proposal ini seharusnya ditolak.”

Infantino mengusulkan agar seluruh bisnis komersial FIFA—termasuk penyelenggaraan Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub untuk kategori putra maupun putri—dipisahkan ke dalam sebuah anak perusahaan (subsidiary) dengan nilai sekitar US$20 miliar. Dalam skema tersebut, 20 persen saham perusahaan akan dimiliki oleh investor swasta. Menurut FIFA, investor utama (anchor investor) dalam proyek ini adalah Joshua Kushner, adik dari Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“FIFA sebenarnya sudah memiliki akses terhadap sumber daya keuangan yang sangat besar. Organisasi ini memiliki cadangan dana miliaran dolar dan tidak memiliki utang,” kata Cordeiro.
Ia juga menyoroti bahwa FIFA membukukan pendapatan sebesar US$15 miliar selama empat tahun terakhir, yang sebagian besar ditopang oleh penyelenggaraan Piala Dunia FIFA putra yang baru saja berakhir.
“Dengan kondisi keuangan seperti itu, menjual kepemilikan permanen atas aset paling berharga dalam dunia sepak bola demi memperoleh dana sebesar US$4,2 miliar tidak masuk akal. Langkah tersebut sama saja dengan menggadaikan masa depan sepak bola tanpa alasan yang benar-benar kuat,” ujar Cordeiro.

Cordeiro mengatakan bahwa selama lima tahun bekerja di FIFA bersama Gianni Infantino, ia berkesempatan bekerja dengan orang-orang yang berdedikasi, berintegritas, dan memiliki kepedulian yang mendalam terhadap sepak bola.
“Saya berharap mereka juga akan bersuara,” tulisnya. “Sebab, keputusan sebesar ini seharusnya diambil demi kepentingan sepak bola, bukan demi kepentingan pihak-pihak yang berpotensi memperoleh keuntungan darinya.”
Infantino telah menjabat sebagai Presiden FIFA selama lebih dari 10 tahun dan diperkirakan akan kembali terpilih tanpa lawan dalam pemilihan presiden FIFA yang akan digelar pada Maret tahun depan. FIFA menetapkan 18 November sebagai batas waktu bagi calon penantang untuk menyatakan pencalonannya.
Lamour sendiri merupakan salah satu anggota lingkaran dalam Infantino yang turut berkampanye hingga Infantino berhasil meraih kemenangan mengejutkan dalam pemilihan Presiden FIFA pada Februari 2016.






