Letnan utama gangster India Lawrence Bishnoi, Goldy Brar, tiba di Kanada pada 2017, dengan alasan untuk berkuliah di Thompson Rivers University di Kamloops, British Columbia.
Namun, menurut catatan yang ada, tidak diketahui apakah ia pernah benar-benar mengikuti perkuliahan.
Sebaliknya, ia membantu Bishnoi memperluas organisasi kriminalnya ke Kanada dan diduga terlibat dalam sejumlah pembunuhan terkenal, pembunuhan bermotif politik, serta krisis pemerasan.
Sebuah laporan intelijen rahasia yang diperoleh Global News mengungkap bahwa jaringan geng Bishnoi di Kanada sangat bergantung pada pemuda India yang, seperti Brar, memasuki negara tersebut menggunakan visa pelajar.
Laporan yang disusun oleh Canada Border Services Agency (CBSA) tersebut menyebut adanya “kehadiran operasional yang semakin berkembang dari jaringan Bishnoi di Kanada” serta “penggunaan program imigrasi Kanada yang terbukti untuk tujuan kriminal.”
“Investigasi semakin sering mengidentifikasi warga negara asing asal India yang memiliki izin belajar dan izin kerja sebagai peserta dalam aktivitas kriminal terorganisasi ini,” tulis Direktorat Intelijen dan Investigasi CBSA.
“Perluasan pemerasan yang terkait dengan Bishnoi secara berkelanjutan serta keterlibatan pemegang izin belajar dan izin kerja menimbulkan kekhawatiran signifikan bagi operasional CBSA.”
Panduan taktis berjudul “The Bishnoi Gang: An Emerging Threat in Canada” tersebut diedarkan pada Desember 2025 untuk membantu petugas imigrasi menangani kelompok kriminal yang menyasar komunitas Asia Selatan di negara tersebut.
Meskipun diklasifikasikan sebagai rahasia, salinan laporan yang dipublikasikan melalui pengadilan menunjukkan bagaimana program pelajar asing Kanada yang kontroversial mungkin telah berkontribusi terhadap persoalan geng India di Kanada.
Menurut laporan tersebut, tingkat pemerasan secara keseluruhan di Kanada turun 10 persen pada 2024. Namun, jumlah warga negara India yang didakwa melakukan pemerasan pada tahun tersebut melonjak 47 persen.
CBSA mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan tren yang berkembang, ketika warga Kanada keturunan Asia Selatan melaporkan menerima panggilan dari anggota Bishnoi yang menuntut sejumlah besar uang.
Ketika polisi menyelidiki kasus-kasus pemerasan tersebut, laporan itu menyebutkan bahwa terdapat dua kesamaan yang muncul: nama Goldy Brar dan tersangka yang berada di Kanada dengan visa pelajar maupun visa kerja.
“Tren peningkatan dakwaan pemerasan menunjukkan pola yang serupa dengan yang terlihat dalam kasus kejahatan serius dan kejahatan terorganisasi di kalangan pemegang izin belajar asal India,” tambah laporan tersebut.
Menurut laporan itu, kejahatan yang dilakukan oleh pemegang izin belajar asal India melonjak 8.800 persen antara 2016 dan 2024, sehingga India disebut sebagai negara “sumber utama” pelajar asing yang didakwa melakukan tindak pidana.
“Perlu dipahami bahwa statistik ini kemungkinan hanya menggambarkan sebagian dari masalah karena banyak kejahatan tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan,” ungkap laporan tersebut.
Antara 2019 dan 2023, sebanyak 4.000 warga negara India yang masuk ke Kanada menggunakan izin belajar didakwa atas 17.929 pelanggaran.
Sebanyak sepertiga dari dakwaan tersebut, atau 4.920 kasus, dikategorikan sebagai kejahatan serius atau terkait kejahatan terorganisasi. Sementara itu, 97 persen dari pelanggaran tersebut dianggap melibatkan kekerasan.
Pada 2024, lebih dari 13.040 dakwaan pidana dijatuhkan terhadap warga negara India di Kanada yang memiliki visa pelajar, menurut laporan tersebut.
Laporan itu tidak menyebutkan bahwa 2.418 orang yang didakwa tersebut hanya mewakili sedikit lebih dari satu persen dari 188.125 pelajar India pada tahun tersebut, tetapi lebih menekankan pada tren peningkatan jumlah kasus.
Letnan utama gangster India Lawrence Bishnoi, Goldy Brar, tiba di Kanada pada 2017, dengan alasan untuk berkuliah di Thompson Rivers University di Kamloops, British Columbia.
Namun, menurut catatan yang ada, tidak diketahui apakah ia pernah benar-benar mengikuti perkuliahan.
Sebaliknya, ia membantu Bishnoi memperluas organisasi kriminalnya ke Kanada dan diduga terlibat dalam sejumlah pembunuhan terkenal, pembunuhan bermotif politik, serta krisis pemerasan.
Sebuah laporan intelijen rahasia yang diperoleh Global News mengungkap bahwa jaringan geng Bishnoi di Kanada sangat bergantung pada pemuda India yang, seperti Brar, memasuki negara tersebut menggunakan visa pelajar.
Laporan yang disusun oleh Canada Border Services Agency (CBSA) tersebut menyebut adanya “kehadiran operasional yang semakin berkembang dari jaringan Bishnoi di Kanada” serta “penggunaan program imigrasi Kanada yang terbukti untuk tujuan kriminal.”
“Investigasi semakin sering mengidentifikasi warga negara asing asal India yang memiliki izin belajar dan izin kerja sebagai peserta dalam aktivitas kriminal terorganisasi ini,” tulis Direktorat Intelijen dan Investigasi CBSA.
“Perluasan pemerasan yang terkait dengan Bishnoi secara berkelanjutan serta keterlibatan pemegang izin belajar dan izin kerja menimbulkan kekhawatiran signifikan bagi operasional CBSA.”
Panduan taktis berjudul “The Bishnoi Gang: An Emerging Threat in Canada” tersebut diedarkan pada Desember 2025 untuk membantu petugas imigrasi menangani kelompok kriminal yang menyasar komunitas Asia Selatan di negara tersebut.
Meskipun diklasifikasikan sebagai rahasia, salinan laporan yang dipublikasikan melalui pengadilan menunjukkan bagaimana program pelajar asing Kanada yang kontroversial mungkin telah berkontribusi terhadap persoalan geng India di Kanada.
Menurut laporan tersebut, tingkat pemerasan secara keseluruhan di Kanada turun 10 persen pada 2024. Namun, jumlah warga negara India yang didakwa melakukan pemerasan pada tahun tersebut melonjak 47 persen.
CBSA mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan tren yang berkembang, ketika warga Kanada keturunan Asia Selatan melaporkan menerima panggilan dari anggota Bishnoi yang menuntut sejumlah besar uang.
Ketika polisi menyelidiki kasus-kasus pemerasan tersebut, laporan itu menyebutkan bahwa terdapat dua kesamaan yang muncul: nama Goldy Brar dan tersangka yang berada di Kanada dengan visa pelajar maupun visa kerja.
“Tren peningkatan dakwaan pemerasan menunjukkan pola yang serupa dengan yang terlihat dalam kasus kejahatan serius dan kejahatan terorganisasi di kalangan pemegang izin belajar asal India,” tambah laporan tersebut.
Menurut laporan itu, kejahatan yang dilakukan oleh pemegang izin belajar asal India melonjak 8.800 persen antara 2016 dan 2024, sehingga India disebut sebagai negara “sumber utama” pelajar asing yang didakwa melakukan tindak pidana.
“Perlu dipahami bahwa statistik ini kemungkinan hanya menggambarkan sebagian dari masalah karena banyak kejahatan tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan,” ungkap laporan tersebut.
Antara 2019 dan 2023, sebanyak 4.000 warga negara India yang masuk ke Kanada menggunakan izin belajar didakwa atas 17.929 pelanggaran.
Sebanyak sepertiga dari dakwaan tersebut, atau 4.920 kasus, dikategorikan sebagai kejahatan serius atau terkait kejahatan terorganisasi. Sementara itu, 97 persen dari pelanggaran tersebut dianggap melibatkan kekerasan.
Pada 2024, lebih dari 13.040 dakwaan pidana dijatuhkan terhadap warga negara India di Kanada yang memiliki visa pelajar, menurut laporan tersebut.
Laporan itu tidak menyebutkan bahwa 2.418 orang yang didakwa tersebut hanya mewakili sedikit lebih dari satu persen dari 188.125 pelajar India pada tahun tersebut, tetapi lebih menekankan pada tren peningkatan jumlah kasus.
Letnan utama gangster India Lawrence Bishnoi, Goldy Brar, tiba di Kanada pada 2017, dengan alasan untuk berkuliah di Thompson Rivers University di Kamloops, British Columbia.
Namun, menurut catatan yang ada, tidak diketahui apakah ia pernah benar-benar mengikuti perkuliahan.
Sebaliknya, ia membantu Bishnoi memperluas organisasi kriminalnya ke Kanada dan diduga terlibat dalam sejumlah pembunuhan terkenal, pembunuhan bermotif politik, serta krisis pemerasan.
Sebuah laporan intelijen rahasia yang diperoleh Global News mengungkap bahwa jaringan geng Bishnoi di Kanada sangat bergantung pada pemuda India yang, seperti Brar, memasuki negara tersebut menggunakan visa pelajar.
Laporan yang disusun oleh Canada Border Services Agency (CBSA) tersebut menyebut adanya “kehadiran operasional yang semakin berkembang dari jaringan Bishnoi di Kanada” serta “penggunaan program imigrasi Kanada yang terbukti untuk tujuan kriminal.”
“Investigasi semakin sering mengidentifikasi warga negara asing asal India yang memiliki izin belajar dan izin kerja sebagai peserta dalam aktivitas kriminal terorganisasi ini,” tulis Direktorat Intelijen dan Investigasi CBSA.
“Perluasan pemerasan yang terkait dengan Bishnoi secara berkelanjutan serta keterlibatan pemegang izin belajar dan izin kerja menimbulkan kekhawatiran signifikan bagi operasional CBSA.”
Panduan taktis berjudul “The Bishnoi Gang: An Emerging Threat in Canada” tersebut diedarkan pada Desember 2025 untuk membantu petugas imigrasi menangani kelompok kriminal yang menyasar komunitas Asia Selatan di negara tersebut.
Meskipun diklasifikasikan sebagai rahasia, salinan laporan yang dipublikasikan melalui pengadilan menunjukkan bagaimana program pelajar asing Kanada yang kontroversial mungkin telah berkontribusi terhadap persoalan geng India di Kanada.
Menurut laporan tersebut, tingkat pemerasan secara keseluruhan di Kanada turun 10 persen pada 2024. Namun, jumlah warga negara India yang didakwa melakukan pemerasan pada tahun tersebut melonjak 47 persen.
CBSA mengatakan peningkatan tersebut mencerminkan tren yang berkembang, ketika warga Kanada keturunan Asia Selatan melaporkan menerima panggilan dari anggota Bishnoi yang menuntut sejumlah besar uang.
Ketika polisi menyelidiki kasus-kasus pemerasan tersebut, laporan itu menyebutkan bahwa terdapat dua kesamaan yang muncul: nama Goldy Brar dan tersangka yang berada di Kanada dengan visa pelajar maupun visa kerja.
“Tren peningkatan dakwaan pemerasan menunjukkan pola yang serupa dengan yang terlihat dalam kasus kejahatan serius dan kejahatan terorganisasi di kalangan pemegang izin belajar asal India,” tambah laporan tersebut.
Menurut laporan itu, kejahatan yang dilakukan oleh pemegang izin belajar asal India melonjak 8.800 persen antara 2016 dan 2024, sehingga India disebut sebagai negara “sumber utama” pelajar asing yang didakwa melakukan tindak pidana.
“Perlu dipahami bahwa statistik ini kemungkinan hanya menggambarkan sebagian dari masalah karena banyak kejahatan tidak terdeteksi dan tidak dilaporkan,” ungkap laporan tersebut.
Antara 2019 dan 2023, sebanyak 4.000 warga negara India yang masuk ke Kanada menggunakan izin belajar didakwa atas 17.929 pelanggaran.
Sebanyak sepertiga dari dakwaan tersebut, atau 4.920 kasus, dikategorikan sebagai kejahatan serius atau terkait kejahatan terorganisasi. Sementara itu, 97 persen dari pelanggaran tersebut dianggap melibatkan kekerasan.
Pada 2024, lebih dari 13.040 dakwaan pidana dijatuhkan terhadap warga negara India di Kanada yang memiliki visa pelajar, menurut laporan tersebut.
Laporan itu tidak menyebutkan bahwa 2.418 orang yang didakwa tersebut hanya mewakili sedikit lebih dari satu persen dari 188.125 pelajar India pada tahun tersebut, tetapi lebih menekankan pada tren peningkatan jumlah kasus.
Ketika pemerintah membatasi visa pelajar asing pada akhir 2024, pemerintah menyebut tekanan terhadap perumahan sebagai alasan perubahan tersebut. Namun, laporan CBSA mengkaji kemungkinan dampak lainnya.
Di tengah lonjakan jumlah pelajar internasional yang mencapai lebih dari 800.000 orang pada 2022, Kanada tampaknya telah membuka jalan bagi kelompok kriminal paling terkenal di India untuk berkembang di negara tersebut.
Immigration, Refugees and Citizenship Canada, lembaga yang menerbitkan visa pelajar, tidak menjawab pertanyaan mengenai apakah kebijakan tersebut secara tidak sengaja membantu geng Bishnoi membangun jaringan di Kanada.
Seorang juru bicara mengatakan bahwa program pelajar internasional telah turun 83 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya, sementara warga negara India kini menyumbang seperempat dari seluruh visa, turun dari sebelumnya 41 persen.
Namun, Prof. Kelly Sundberg, seorang kriminolog dan mantan petugas CBSA, mengatakan bahwa program pelajar asing yang “terlalu terbuka dan hanya mengandalkan kepercayaan” dari departemen imigrasi jelas telah dimanfaatkan oleh geng Bishnoi.
Menurut Sundberg, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar yang meninjau laporan CBSA untuk Global News, kurangnya pemeriksaan yang memadai memungkinkan para pemimpin geng masuk ke Kanada sekaligus memberi mereka akses terhadap kelompok anak muda yang dapat direkrut.
“Ini adalah kombinasi sempurna antara kebijakan dan hukum yang tidak masuk akal, yang mengakibatkan masuknya begitu banyak warga asing muda ke Kanada dengan dukungan yang terbatas setelah mereka berada di sini, sehingga mereka menjadi sasaran para pelaku kriminal dari negara asal mereka untuk direkrut,” katanya.
“Ottawa sepenuhnya bertanggung jawab.”Ketika pemerintah membatasi visa pelajar asing pada akhir 2024, pemerintah menyebut tekanan terhadap perumahan sebagai alasan perubahan tersebut. Namun, laporan CBSA mengkaji kemungkinan dampak lainnya.
Di tengah lonjakan jumlah pelajar internasional yang mencapai lebih dari 800.000 orang pada 2022, Kanada tampaknya telah membuka jalan bagi kelompok kriminal paling terkenal di India untuk berkembang di negara tersebut.
Immigration, Refugees and Citizenship Canada, lembaga yang menerbitkan visa pelajar, tidak menjawab pertanyaan mengenai apakah kebijakan tersebut secara tidak sengaja membantu geng Bishnoi membangun jaringan di Kanada.
Seorang juru bicara mengatakan bahwa program pelajar internasional telah turun 83 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya, sementara warga negara India kini menyumbang seperempat dari seluruh visa, turun dari sebelumnya 41 persen.
Namun, Prof. Kelly Sundberg, seorang kriminolog dan mantan petugas CBSA, mengatakan bahwa program pelajar asing yang “terlalu terbuka dan hanya mengandalkan kepercayaan” dari departemen imigrasi jelas telah dimanfaatkan oleh geng Bishnoi.
Menurut Sundberg, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar yang meninjau laporan CBSA untuk Global News, kurangnya pemeriksaan yang memadai memungkinkan para pemimpin geng masuk ke Kanada sekaligus memberi mereka akses terhadap kelompok anak muda yang dapat direkrut.
“Ini adalah kombinasi sempurna antara kebijakan dan hukum yang tidak masuk akal, yang mengakibatkan masuknya begitu banyak warga asing muda ke Kanada dengan dukungan yang terbatas setelah mereka berada di sini, sehingga mereka menjadi sasaran para pelaku kriminal dari negara asal mereka untuk direkrut,” katanya.
“Ottawa sepenuhnya bertanggung jawab.”Ketika pemerintah membatasi visa pelajar asing pada akhir 2024, pemerintah menyebut tekanan terhadap perumahan sebagai alasan perubahan tersebut. Namun, laporan CBSA mengkaji kemungkinan dampak lainnya.
Di tengah lonjakan jumlah pelajar internasional yang mencapai lebih dari 800.000 orang pada 2022, Kanada tampaknya telah membuka jalan bagi kelompok kriminal paling terkenal di India untuk berkembang di negara tersebut.
Immigration, Refugees and Citizenship Canada, lembaga yang menerbitkan visa pelajar, tidak menjawab pertanyaan mengenai apakah kebijakan tersebut secara tidak sengaja membantu geng Bishnoi membangun jaringan di Kanada.
Seorang juru bicara mengatakan bahwa program pelajar internasional telah turun 83 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya, sementara warga negara India kini menyumbang seperempat dari seluruh visa, turun dari sebelumnya 41 persen.
Namun, Prof. Kelly Sundberg, seorang kriminolog dan mantan petugas CBSA, mengatakan bahwa program pelajar asing yang “terlalu terbuka dan hanya mengandalkan kepercayaan” dari departemen imigrasi jelas telah dimanfaatkan oleh geng Bishnoi.
Menurut Sundberg, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar yang meninjau laporan CBSA untuk Global News, kurangnya pemeriksaan yang memadai memungkinkan para pemimpin geng masuk ke Kanada sekaligus memberi mereka akses terhadap kelompok anak muda yang dapat direkrut.
“Ini adalah kombinasi sempurna antara kebijakan dan hukum yang tidak masuk akal, yang mengakibatkan masuknya begitu banyak warga asing muda ke Kanada dengan dukungan yang terbatas setelah mereka berada di sini, sehingga mereka menjadi sasaran para pelaku kriminal dari negara asal mereka untuk direkrut,” katanya.
“Ottawa sepenuhnya bertanggung jawab.”Ketika pemerintah membatasi visa pelajar asing pada akhir 2024, pemerintah menyebut tekanan terhadap perumahan sebagai alasan perubahan tersebut. Namun, laporan CBSA mengkaji kemungkinan dampak lainnya.
Di tengah lonjakan jumlah pelajar internasional yang mencapai lebih dari 800.000 orang pada 2022, Kanada tampaknya telah membuka jalan bagi kelompok kriminal paling terkenal di India untuk berkembang di negara tersebut.
Immigration, Refugees and Citizenship Canada, lembaga yang menerbitkan visa pelajar, tidak menjawab pertanyaan mengenai apakah kebijakan tersebut secara tidak sengaja membantu geng Bishnoi membangun jaringan di Kanada.
Seorang juru bicara mengatakan bahwa program pelajar internasional telah turun 83 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya, sementara warga negara India kini menyumbang seperempat dari seluruh visa, turun dari sebelumnya 41 persen.
Namun, Prof. Kelly Sundberg, seorang kriminolog dan mantan petugas CBSA, mengatakan bahwa program pelajar asing yang “terlalu terbuka dan hanya mengandalkan kepercayaan” dari departemen imigrasi jelas telah dimanfaatkan oleh geng Bishnoi.
Menurut Sundberg, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar yang meninjau laporan CBSA untuk Global News, kurangnya pemeriksaan yang memadai memungkinkan para pemimpin geng masuk ke Kanada sekaligus memberi mereka akses terhadap kelompok anak muda yang dapat direkrut.
“Ini adalah kombinasi sempurna antara kebijakan dan hukum yang tidak masuk akal, yang mengakibatkan masuknya begitu banyak warga asing muda ke Kanada dengan dukungan yang terbatas setelah mereka berada di sini, sehingga mereka menjadi sasaran para pelaku kriminal dari negara asal mereka untuk direkrut,” katanya.
“Ottawa sepenuhnya bertanggung jawab.”Ketika pemerintah membatasi visa pelajar asing pada akhir 2024, pemerintah menyebut tekanan terhadap perumahan sebagai alasan perubahan tersebut. Namun, laporan CBSA mengkaji kemungkinan dampak lainnya.
Di tengah lonjakan jumlah pelajar internasional yang mencapai lebih dari 800.000 orang pada 2022, Kanada tampaknya telah membuka jalan bagi kelompok kriminal paling terkenal di India untuk berkembang di negara tersebut.
Immigration, Refugees and Citizenship Canada, lembaga yang menerbitkan visa pelajar, tidak menjawab pertanyaan mengenai apakah kebijakan tersebut secara tidak sengaja membantu geng Bishnoi membangun jaringan di Kanada.
Seorang juru bicara mengatakan bahwa program pelajar internasional telah turun 83 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya, sementara warga negara India kini menyumbang seperempat dari seluruh visa, turun dari sebelumnya 41 persen.
Namun, Prof. Kelly Sundberg, seorang kriminolog dan mantan petugas CBSA, mengatakan bahwa program pelajar asing yang “terlalu terbuka dan hanya mengandalkan kepercayaan” dari departemen imigrasi jelas telah dimanfaatkan oleh geng Bishnoi.
Menurut Sundberg, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar yang meninjau laporan CBSA untuk Global News, kurangnya pemeriksaan yang memadai memungkinkan para pemimpin geng masuk ke Kanada sekaligus memberi mereka akses terhadap kelompok anak muda yang dapat direkrut.
“Ini adalah kombinasi sempurna antara kebijakan dan hukum yang tidak masuk akal, yang mengakibatkan masuknya begitu banyak warga asing muda ke Kanada dengan dukungan yang terbatas setelah mereka berada di sini, sehingga mereka menjadi sasaran para pelaku kriminal dari negara asal mereka untuk direkrut,” katanya.
“Ottawa sepenuhnya bertanggung jawab.”Ketika pemerintah membatasi visa pelajar asing pada akhir 2024, pemerintah menyebut tekanan terhadap perumahan sebagai alasan perubahan tersebut. Namun, laporan CBSA mengkaji kemungkinan dampak lainnya.
Di tengah lonjakan jumlah pelajar internasional yang mencapai lebih dari 800.000 orang pada 2022, Kanada tampaknya telah membuka jalan bagi kelompok kriminal paling terkenal di India untuk berkembang di negara tersebut.
Immigration, Refugees and Citizenship Canada, lembaga yang menerbitkan visa pelajar, tidak menjawab pertanyaan mengenai apakah kebijakan tersebut secara tidak sengaja membantu geng Bishnoi membangun jaringan di Kanada.
Seorang juru bicara mengatakan bahwa program pelajar internasional telah turun 83 persen dibandingkan dua tahun sebelumnya, sementara warga negara India kini menyumbang seperempat dari seluruh visa, turun dari sebelumnya 41 persen.
Namun, Prof. Kelly Sundberg, seorang kriminolog dan mantan petugas CBSA, mengatakan bahwa program pelajar asing yang “terlalu terbuka dan hanya mengandalkan kepercayaan” dari departemen imigrasi jelas telah dimanfaatkan oleh geng Bishnoi.
Menurut Sundberg, yang merupakan salah satu dari beberapa pakar yang meninjau laporan CBSA untuk Global News, kurangnya pemeriksaan yang memadai memungkinkan para pemimpin geng masuk ke Kanada sekaligus memberi mereka akses terhadap kelompok anak muda yang dapat direkrut.
“Ini adalah kombinasi sempurna antara kebijakan dan hukum yang tidak masuk akal, yang mengakibatkan masuknya begitu banyak warga asing muda ke Kanada dengan dukungan yang terbatas setelah mereka berada di sini, sehingga mereka menjadi sasaran para pelaku kriminal dari negara asal mereka untuk direkrut,” katanya.
“Ottawa sepenuhnya bertanggung jawab.”
Students of Bishnoi

Kesimpulan laporan mengenai geng Bishnoi dan visa pelajar tersebut didukung oleh informasi yang lebih baru yang muncul di Dewan Imigrasi dan Pengungsi Kanada.
Selama enam bulan terakhir, sejumlah orang yang diduga anggota Bishnoi dan ditangkap dalam operasi penindakan Kanada terhadap geng pemerasan asal India telah menghadiri persidangan deportasi.
Dalam persidangan yang dihadiri atau ditinjau dokumennya oleh Global News, panduan taktis CBSA berulang kali disebut sebagai salah satu sumber.
Kasus-kasus tersebut melibatkan para penembak yang menyerang rumah dan tempat usaha korban di British Columbia, Alberta, dan Ontario, serta anggota jaringan geng yang memiliki peran lebih kecil.
Namun, selain sama-sama berkewarganegaraan India, para anggota geng tersebut memiliki kesamaan lainnya: mereka masuk ke Kanada menggunakan visa pelajar yang dikeluarkan pemerintah Kanada.
Goldy Brar menjadi pelopor metode tersebut. Sebagai anggota paling senior geng di Kanada, ia menggunakan visa pelajarnya untuk masuk ke negara tersebut dan menjalankan operasi geng di Amerika Utara.
Dua tahun setelah tiba di British Columbia, ia berusaha memperkuat status imigrasinya dengan mengajukan permohonan pengungsi pada Februari 2019, menurut laporan intelijen tersebut.
Brar kemudian dituduh terlibat dalam pembunuhan seorang pemimpin pemuda di India serta bintang musik Punjabi, Sidhu Moose Wala, yang sebelumnya pernah belajar di Kanada sebelum kembali ke India.
Brar dijadwalkan menyampaikan permohonannya untuk mendapatkan status pengungsi dalam persidangan pada 14 Juni 2022. Namun, ia tidak pernah hadir dan Divisi Perlindungan Pengungsi menyatakan bahwa permohonannya telah ditinggalkan.
Namun, menurut dakwaan yang baru-baru ini dibuka di Amerika Serikat, pada saat itu Brar telah menjalankan rencana berikutnya dari geng Bishnoi: membunuh seorang aktivis Sikh Kanada yang menjadi buronan India.
Untuk melakukan pembunuhan tersebut, Brar diduga mengawasi perekrutan pemuda India di Edmonton dan Brampton, Ontario. Mereka seluruhnya berada di Kanada dengan izin belajar atau izin kerja.
Pada 18 Juni 2023, Hardeep Singh Nijjar meninggalkan kuil di Surrey, British Columbia, tempat ia menjabat sebagai presiden, ketika dua penembak melepaskan tembakan sebelum melarikan diri menggunakan mobil.
Pihak berwenang Kanada menduga pemerintah Perdana Menteri India Narendra Modi berada di balik pembunuhan tersebut dan menuduh diplomat India membagikan informasi mengenai warga Kanada yang mengkritik pemerintahannya kepada geng Bishnoi.
“Dugaan ini menunjukkan adanya kemungkinan tumpang tindih antara kejahatan terorganisasi dan aktor yang memiliki keterkaitan dengan negara, yang menjalankan tujuan yang sejalan,” tulis CBSA dalam laporannya.
CBSA merupakan bagian dari Project SEVA, sebuah satuan tugas yang dipimpin RCMP untuk mengganggu dan menyelidiki “intervensi aktor asing” yang terkait dengan India, menurut laporan tersebut.
Setelah pembunuhan Nijjar, geng Bishnoi mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Sukhdool Singh Gill, anggota kelompok kriminal rival Bambiha di Winnipeg, menurut laporan tersebut.
Geng tersebut juga semakin memperkuat sumber pendapatan utamanya: menyebarkan ketakutan di kalangan warga Kanada keturunan Asia Selatan di kota-kota seperti Surrey, Edmonton, dan Brampton untuk memeras uang dari mereka.
Para korban menerima pesan WhatsApp yang menuntut sejumlah besar uang dan disertai ancaman. Jika mereka tidak membayar, para penembak akan memberondong rumah dan tempat usaha mereka dengan peluru.
Video penembakan yang direkam oleh para pelaku kemudian dengan cepat muncul di media sosial sebagai bentuk klaim tanggung jawab, disertai pernyataan sombong dan ancaman lanjutan dari para pemimpin Bishnoi.
Tujuan geng tersebut bukan hanya memperoleh keuntungan melalui pemerasan, kata Wade Diesman, profesor kriminologi di University of Fraser Valley di Abbotsford, British Columbia.
Sebaliknya, menurut Diesman, Bishnoi berupaya menciptakan kondisi di mana warga Kanada keturunan Asia Selatan “pada akhirnya akan menerima adanya semacam sistem pungutan.”
“Ini bukan sekadar krisis pemerasan, melainkan krisis keselamatan publik.”
Student leader, crime boss

Geng Bishnoi sejak awal merupakan kelompok kriminal yang berbasis pada kalangan pelajar. Lawrence Bishnoi mulai dikenal melalui politik mahasiswa di Panjab University.
Setelah kalah dalam pemilihan mahasiswa pada 2011, ia diduga menembak kandidat yang memenangkan pemilihan tersebut dan kemudian menjadi presiden, menggunakan posisinya untuk melakukan kekerasan dan pencurian.
Ia telah berada di penjara India sejak 2015, tetapi tetap menjadi ancaman besar bagi Kanada sehingga pemerintah Kanada memasukkan geng Bishnoi ke dalam daftar kelompok teroris pada September tahun lalu.
“Bukti menunjukkan bahwa operasi utama geng Bishnoi terus diarahkan oleh Bishnoi dari balik jeruji penjara,” demikian isi laporan intelijen CBSA.
Untuk menjalankan operasinya, ia diduga mengandalkan telepon seluler dan orang-orang kepercayaannya seperti Brar, yang kemudian merekrut anggota dari populasi pelajar India di Kanada yang terus meningkat untuk melakukan berbagai aksi kriminal.
Sebagai contoh terbaru, laporan intelijen tersebut menyebut kasus Abjeet Kingra, yang datang ke British Columbia menggunakan visa pelajar pada 2018 sebelum direkrut sebagai penembak.
Saat bekerja di sebuah perusahaan pindahan di Winnipeg, seorang rekan menawarkan kepadanya uang sebesar $4.000 untuk menemaninya ke Vancouver Island dalam sebuah aksi penembakan, kata Kingra dalam persidangan deportasinya.
Kingra mengatakan bahwa dirinya mengalami kesulitan hidup di Kanada dan melakukan tindakan tersebut demi mendapatkan uang.
“Karena saya pikir saya akan bisa membantu keluarga saya di India, karena pekerjaan saya di sini tidak berjalan dengan baik.”
Pada malam 2 September 2024, Kingra melepaskan 14 tembakan ke rumah musisi Punjabi A.P. Dhillon di Colwood, British Columbia, sementara rekannya membakar kendaraan yang berada di halaman rumah.
Polisi meyakini Rohit Godara, yang diduga merupakan manajer operasional Brar di Amerika Utara, berada di balik serangan tersebut. Kingra dinyatakan bersalah atas kasus tersebut pada tahun lalu.
“Kingra direkrut untuk ‘meneror’ Dhillon atas perintah geng Bishnoi, yang menunjukkan penggunaan pemegang izin pelajar oleh geng tersebut untuk melakukan tindakan kekerasan di Kanada,” kata laporan CBSA.
Dewan pengungsi Kanada memerintahkan deportasi Kingra pada Juni. Sementara itu, di Edmonton, seorang pelajar lainnya bernama Jashandeep Singh juga menghadapi deportasi atas perannya dalam geng Bishnoi.
Singh diduga terlibat dalam geng tersebut melalui warga India lainnya yang berada di Kanada dengan visa pelajar, yaitu Arshdeep Singh, yang ditemuinya di Campbell College di Edmonton.
“Para pelajar ini memiliki profil yang sama dengan orang-orang yang bekerja untuk Lawrence Bishnoi dan gangster lainnya di India,” kata Gurpreet Singh, seorang jurnalis senior di British Columbia.
“Jadi, hal yang sama sedang terjadi di sini.”
Polisi meyakini Arshdeep Singh berada di bawah arahan Goldy Brar, yang menurut laporan CBSA “telah disebut oleh banyak korban dalam kasus percobaan pemerasan baru-baru ini di Kanada.”
Masih belum jelas apakah Brar sendiri yang melakukan panggilan pemerasan, menggunakan orang lain untuk menyampaikan tuntutan atas namanya, atau apakah para pelaku lain mulai menggunakan namanya untuk memberikan dampak yang lebih besar.
Namun, intelijen terbaru “menunjukkan bahwa nama Goldy adalah nama yang paling sering digunakan dalam kasus pemerasan” di Alberta, menurut laporan CBSA.
Pada 2025, geng pemerasan memperluas sasaran mereka dari komunitas Sikh Punjabi ke kelompok “diaspora Indo-Kanada lainnya” yang lebih luas, kata laporan tersebut.
“Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terlihat di seluruh Kanada pada 2023 dan 2024, serta tidak sesuai dengan modus operandi awal pemerasan dan pembunuhan yang terkait dengan geng Bishnoi, yang menargetkan orang-orang yang diduga merupakan anggota gerakan pro-Khalistan atau mereka yang mungkin menyuarakan kekhawatiran terhadap Pemerintah India,” demikian isi laporan tersebut.
Pemimpin Sikh Federation of Canada, Moninder Singh, yang telah empat kali diperingatkan mengenai rencana pembunuhan yang dinilai kredibel terhadap dirinya, mengatakan bahwa pemerintah harus lebih transparan mengenai kemungkinan keterlibatan pejabat India.
“Persoalan utamanya bukan sekadar bagaimana kelompok Bishnoi beroperasi di Kanada, tetapi bagaimana pejabat intelijen dan diplomat India menggunakan jaringan kriminal tersebut untuk mengawasi, mengintimidasi, memeras, dan menyerang warga Sikh di Kanada,” katanya.
Where is Goldy Brar?

Tingkat pemerasan telah menurun sejak Januari di Surrey, wilayah yang sebelumnya menjadi salah satu daerah paling terdampak, seiring polisi dan petugas imigrasi meningkatkan penyelidikan, menurut statistik kepolisian.
Namun, Diesman, yang telah meneliti Bishnoi sejak berbicara dengan para korban dalam sebuah pertemuan publik mengenai masalah tersebut di Surrey delapan bulan lalu, meragukan angka tersebut.
“Menurut saya, masalah ini justru bergerak ke bawah tanah, orang-orang memilih untuk menutup diri,” katanya. “Mereka berusaha bermain aman, dan bermain aman berarti tunduk serta mengikuti kemauan mereka.”
Selain itu, geng Bishnoi bukan satu-satunya masalah. Kelompok kriminal lain, Ruffians, juga “muncul dari komunitas pelajar India” dan mencakup anggota yang memiliki izin kerja maupun izin belajar, menurut dokumen CBSA terpisah.
Geng Bishnoi mulai mengalami perpecahan sejak kemunculannya di Kanada. Brar dan manajernya yang diduga, Rohit Godara, berselisih dengan pemimpin lama mereka dalam beberapa bulan terakhir.
Laporan intelijen tersebut menyebutkan bahwa perpecahan terjadi karena Brar dan Godara tidak mau membantu saudara Bishnoi, Amnol, setelah ia ditangkap oleh petugas imigrasi Amerika Serikat.
Brar dan Godara kemudian sama-sama mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Jora Sidhu, rekan Bishnoi yang menurut polisi terkait dengan kasus pemerasan di British Columbia dan Alberta.
CBSA mengatakan bahwa klaim bersama Brar dan Godara mengenai kematian Sidhu akibat penusukan di Dubai pada November 2025 dapat “mengindikasikan bahwa mereka bekerja sama.”
Godara menyebut Bishnoi sebagai pengkhianat, sementara Brar menuduh mantan pemimpinnya membunuh teman mereka, Inderpreet “Parry” Singh, di India dan juga menuduhnya melakukan pengkhianatan.
Para pemimpin geng tersebut juga menghadapi semakin banyak dakwaan pidana di beberapa negara.
Pada 7 Juli, Amerika Serikat membuka dakwaan yang sebelumnya dirahasiakan, yang menjerat Bishnoi, Brar, dan Godara atas tuduhan melakukan kejahatan terorganisasi. Bishnoi dan Brar juga dituduh memerintahkan pembunuhan Nijjar.
Untuk saat ini, Bishnoi masih berada di penjara India, sementara Brar dan Godara masih bebas. FBI menawarkan hadiah sebesar US$50.000 bagi informasi yang dapat mengarah pada penangkapan Brar.
Rumor bahwa Brar telah meninggal di California, melarikan diri ke Eropa, atau bersembunyi di Surrey setelah mengubah penampilannya masih belum terverifikasi.
“Keberadaannya masih belum diketahui,” tulis CBSA.






