Amerika Serikat menyatakan telah menyerang sekitar 140 target pada Sabtu sebagai respons terhadap serangan militer Iran yang mengenai sebuah kapal yang sedang berlayar di jalur perairan internasional.
Sementara itu, Iran dilaporkan melancarkan serangkaian serangan yang menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania pada Minggu. Beberapa negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, dan Kuwait juga melaporkan mengalami serangan menggunakan rudal dan drone dari Iran.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyampaikan keprihatinan mendalam atas meningkatnya eskalasi konflik tersebut. Ia meminta seluruh pihak yang terlibat untuk menahan diri, menghentikan tindakan yang dapat memperburuk situasi, serta segera mengambil langkah de-eskalasi.
PBB memperingatkan bahwa kembalinya konflik berskala besar dapat membawa dampak buruk bagi masyarakat di kawasan Timur Tengah, stabilitas global, serta perekonomian dunia.
Meningkatnya ketegangan dan berakhirnya gencatan senjata yang sebelumnya rapuh menyebabkan harga energi kembali naik. Aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan minyak penting dunia yang berada antara Iran dan Oman, juga kembali terganggu.
Kondisi tersebut membuat sekitar 6.000 pelaut masih terjebak di atas puluhan kapal yang tidak dapat melanjutkan perjalanan. Kepala Organisasi Maritim Internasional (IMO) menyerukan agar pelayaran melalui selat tersebut dihindari sampai kondisi keamanan benar-benar terpenuhi.
Guterres menegaskan bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus dipulihkan. Ia juga meminta Iran dan Amerika Serikat segera melanjutkan negosiasi serta menyelesaikan perbedaan melalui jalur diplomasi.



