Pria Misterius “Lucky” di Amsterdam Bukan Pria Hilang dari B.C., Polisi Memastikan
Pria misterius yang dikenal dengan nama “Lucky”, yang ditemukan tanpa identitas di Amsterdam pada 2023, dipastikan bukan pria asal Vancouver yang dilaporkan hilang, menurut kepolisian.
Kepolisian Vancouver sebelumnya mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyelidiki kemungkinan apakah “Lucky” merupakan John Russell Kenny, seorang pria yang telah dinyatakan hilang sejak 1994. Namun, pada Sabtu, kepolisian Amsterdam memastikan bahwa “Lucky” dan Kenny adalah dua orang yang berbeda.
“Petunjuk ini telah diselidiki bersama dengan kepolisian Kanada, dan kini telah dipastikan secara definitif bahwa Lucky dan Mr. Kenny bukanlah orang yang sama,” ujar juru bicara kepolisian Amsterdam, Marijke Stor.
Petugas Kepolisian Vancouver, Megan Lui, juga mengonfirmasi hasil tersebut melalui email kepada Global News. Ia mengatakan bahwa sidik jari kedua pria tersebut tidak cocok.
Sementara itu, kepolisian Amsterdam telah menerima lebih dari 500 laporan dan informasi sejak mereka merilis video mengenai Lucky sekitar satu minggu lalu, kata Stor.
Informasi yang masuk tersebut memberikan beberapa nama spesifik baru yang diduga berkaitan dengan identitas Lucky. Saat ini, para detektif sedang menyelidiki setidaknya sembilan petunjuk.
Lui mengatakan bahwa Kepolisian Vancouver tidak terlibat dalam penyelidikan terhadap petunjuk-petunjuk tersebut.
“Lucky” ditemukan dalam kondisi tergeletak di sebuah jalan di Amsterdam pada Mei 2023. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit, tempat para tenaga medis menyimpulkan bahwa ia mengalami pendarahan otak atau stroke.
Hingga kini, Lucky masih mengalami afasia, yaitu gangguan yang dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam membaca, berbicara, menulis, serta memahami perkataan orang lain.
“Kami sebenarnya tidak benar-benar tahu seberapa banyak yang dia pahami. Kami sudah mencoba berbagai cara, tetapi dalam berkomunikasi dengannya, memang sangat sulit untuk mengetahui siapa sebenarnya dirinya,” ujar Stor.
Ketika ditemukan dalam kondisi terjatuh, Lucky tidak membawa dokumen atau identitas pribadi apa pun. Hal tersebut membuat upaya untuk mengetahui identitasnya menjadi sangat sulit.
Kasus ini dikategorikan sebagai “penyelidikan sosial”, dan menurut Stor, polisi berusaha mengungkap identitas Lucky karena berbagai alasan, termasuk untuk menghubungkannya dengan seseorang yang dikenalnya.
“Kami tidak hanya ingin mengetahui siapa dirinya, tetapi juga apakah ada, misalnya, anggota keluarga yang masih menyayanginya dan bisa kembali berhubungan dengannya. Saat ini dia berada di sebuah fasilitas perawatan, di mana tentu saja dia mendapatkan perawatan yang baik,” ujarnya.
“Namun, dia menghabiskan banyak waktunya sendirian, dan kami pikir akan sangat baik baginya jika dia bisa berbicara dengan seseorang yang dia kenal.”
Ada dugaan bahwa pria tersebut mungkin berasal dari Kanada atau Amerika Serikat. Polisi mengatakan bahwa sejumlah informasi yang mereka terima mengarahkan penyelidik ke Soep en Zo, sebuah restoran di kawasan Waterlooplein (Waterloo Square), Amsterdam, yang sesekali didatangi pria tersebut untuk minum.
Di tempat itu, polisi mengetahui bahwa beberapa orang memanggilnya “Chris the Canadian”. Informasi tersebut kemudian mendorong polisi pada Senin lalu untuk meminta bantuan masyarakat di seberang Samudra Atlantik dalam mengidentifikasi pria tersebut.
“Orang-orang mengatakan kepada kami bahwa dia selalu berbicara dengan apa yang mereka sebut sebagai aksen Amerika atau Kanada,” ujar Stor. “Jadi, teori bahwa dia mungkin berasal dari Amerika atau Kanada adalah sesuatu yang menurut kami sangat mungkin.”
Namun, Stor menegaskan bahwa hal tersebut tidak berarti ‘Lucky’ sudah pasti merupakan warga Kanada atau Amerika. Menurutnya, kemungkinan tersebut masih terbuka dan menjadi salah satu dugaan yang sedang dipertimbangkan.
Saat ini, pria tersebut hanya mampu mengucapkan beberapa kata sederhana, sebagian besar dalam bahasa Inggris, seperti “nonsense” (omong kosong), “definitely” (pasti), dan “positive” (positif). Kata-kata tersebut digunakannya untuk menunjukkan apakah ia setuju atau tidak setuju ketika diberi pertanyaan.
Polisi telah mencoba menanyakan berbagai hal tentang dirinya. Mereka juga menggunakan beberapa metode komunikasi, termasuk berbicara secara langsung, komputer dengan bantuan suara, serta meminta Lucky menunjuk huruf-huruf pada peta.
Meski demikian, polisi masih belum dapat memastikan seberapa banyak sebenarnya yang dapat dipahami oleh Lucky.
Masyarakat yang memiliki informasi mengenai identitas pria tersebut dapat menghubungi kepolisian Amsterdam untuk memberikan petunjuk.





